Aku tidak meminta suamiku menjadi sempurna. Aku hanya ingin didengarkan. Setiap hari aku mengurus rumah, memperhatikan kebutuhan keluarga, dan berusaha menjadi istri yang baik. Tetapi ketika aku ingin bercerita tentang lelahku, tentang hal-hal kecil yang membuat hatiku sedih, sering kali jawabannya hanya, “Kamu terlalu banyak berpikir.” Lama-kelamaan aku memilih diam. Bukan karena aku tidak punya cerita, tetapi karena aku merasa tidak ada gunanya berbicara. Aku menangis sendirian di kamar, menghapus air mata sebelum suamiku melihatnya, lalu kembali menjalani hari seolah semuanya baik-baik saja. Dalam diam, aku berdoa, “Tuhan, kalau tidak ada seorang pun yang benar-benar mau mendengarkanku, setidaknya biarlah Engkau mendengar isi hatiku.”
Suatu malam, aku kembali menangis dalam doa. Namun kali ini aku tidak meminta Tuhan mengubah suamiku terlebih dahulu. Aku berkata, “Tuhan, ubahlah hatiku. Ajari aku untuk tetap mengasihi tanpa kehilangan diriku sendiri, dan berikan aku keberanian untuk menyampaikan perasaanku dengan cara yang benar.” Sejak saat itu, aku mulai belajar berbicara dengan tenang, bukan dengan kemarahan yang selama ini kupendam. Aku juga belajar bahwa Tuhan mendengar setiap air mata yang tidak mampu kujelaskan dengan kata-kata. Perlahan, aku menyadari bahwa nilai diriku tidak bergantung pada seberapa sering suamiku mendengarkan, karena aku memiliki Tuhan yang selalu mendengar. Aku masih berharap hubungan kami menjadi lebih baik, tetapi kini aku tidak lagi merasa sendirian. Aku tahu, bahkan ketika suaraku tidak terdengar oleh manusia, doaku selalu sampai kepada Tuhan.



