Sejak kecil, aku hidup dalam keluarga yang sederhana. Ayah bekerja sebagai buruh serabutan, sementara ibu membantu memenuhi kebutuhan keluarga dengan berjualan makanan kecil. Setiap hari, kami harus berhitung dengan uang yang ada. Bahkan, membeli buku sekolah pun terkadang terasa seperti kemewahan. Namun, di tengah keterbatasan itu, orang tuaku selalu mengajarkanku untuk tidak menyerah dan tetap percaya kepada Tuhan. Setiap malam, aku berdoa agar Tuhan membuka jalan bagi masa depanku. Aku punya satu impian sederhana: bisa kuliah dan membahagiakan orang tuaku.
Ketika lulus SMA, kenyataan terasa begitu berat. Biaya kuliah jauh di luar kemampuan keluargaku. Sempat terpikir untuk bekerja saja dan melupakan impian tersebut. Tetapi aku terus berdoa dan mencoba berbagai kesempatan beasiswa. Aku belajar dengan sungguh-sungguh, mengikuti seleksi demi seleksi, bahkan bekerja sambil mempersiapkan diri. Sampai akhirnya, sebuah email masuk: aku diterima kuliah dengan beasiswa. Air mataku jatuh ketika membacanya. Saat itu aku sadar, perjuanganku tidak sia-sia. Tuhan tidak selalu membuat jalanku mudah, tetapi Dia selalu memberikan kekuatan untuk terus melangkah. Dari perjalanan ini aku belajar bahwa kesederhanaan mungkin membatasi keadaanku, tetapi tidak harus membatasi harapanku. Selama aku mau berusaha, berdoa, dan tetap percaya kepada Tuhan, selalu ada jalan yang bisa Dia bukakan.



